Quotes

quotes


"Those who dance are considered insane by those who cannot hear the music."— George Carlin

Sunday, January 25, 2015

Tautan Mingguan #3

No comments:

  1. The New Yorker | Trying to Cure Depression, but Inspiring Torture​
    Kebanyakan mahasiswa psikologi mungkin familiar dengan Martin Seligman, tokoh Positive Psychology. Dalam buku-bukunya, Seligman beberapa kali mengungkapkan bahwa dulu dia banyak meneliti mengenai depresi dan learned helplessness. Penelitian itu dilakukan agar kita lebih memahami kondisi tersebut dan tahu bagaimana cara mengatasinya. Akan tetapi, ternyata hasil temuannya malah dipakai untuk melakukan penyiksaan oleh orang lain...

  2. Readings and Videos on Positive Psychology 
    Sebagai penyeimbang artikel pertama, tautan nomor dua ini berisi daftar bacaan dan juga video yang dapat kita pakai untuk referensi awal dalam mempelajari positive psychology.

  3. The Secrets Of Highly Efficient Napping
    Ini artikel membahas tentang istirahat tidur tapi penulisannya serius... lumayan buat orang-orang yang butuh tidur (kayak saya).

  4. Giant in the Playground - Order of the Stick
    Ini webcomic yang sangat terkenal, pasti bakal betah dibaca sama kalian-kalian yang suka setting RPG (sudah ada 900 halaman lebih, jadi dicicil aja bacanya).

  5. 30 Most Influential Psychologists Working Today
    Daftar 30 psikolog yang dianggap paling berpengaruh saat ini. SPOILER ALERT: nomer satunya bukan Albert Bandura.

Tautan Mingguan sebelumnya:
Tautan Mingguan #1

Friday, January 23, 2015

Resensi Buku | Freud: A Very Short Introduction - Anthony Storr

No comments:
Freud: A Very Short IntroductionFreud: A Very Short Introduction by Anthony Storr
My rating: 5 of 5 stars

"A Very Short Introduction" adalah seri buku dari Oxford yang berisi berbagai macam subjek, mulai dari filsafat, sejarah, agama, dan berbagai macam ilmu lainnya, termasuk psikologi. Salah satu buku yang baru saja selesai saya baca dalam seri ini adalah pengantar singkat tentang Freud.

Buku ini ringkas (namanya juga very short introduction), tapi dapat menjelaskan siapa Freud dan isi pemikirannya. Bagian awal buku menceritakan tentang biografi singkat Sigmund Freud, dan segera dilanjutkan dengan masuk ke dalam gagasan dan teori yang dia kemukakan.

Kelebihan buku ini ada pada penjelasan penulis yang memandang Freud sebagai tokoh historis, dan menjelaskan konsep-konsepnya sesuai dengan konteks pada saat teori itu diciptakan. Kita juga diarahkan pada pemahaman bagaimana interaksi Freud dengan kliennya dapat membuat Freud mengambil kesimpulan tertentu mengenai psikoanalisis.

Dengan demikian, penulis tidak sepenuhnya mendiskreditkan konsep Freud yang sudah lekang oleh jaman, melainkan tetap mengapresiasi apa kontribusi Freud terhadap dunia psikologi (dan juga dalam bidang ilmu lain) di abad 21 ini. Ada kritik yang disampaikan kepada Freud, tetapi kritik itu tetap disampaikan secara 'fair' (sesuai dengan keterbatasan Freud pada masanya, tidak membandingkan dengan perkembangan teknologi di abad 21). Misalnya, kecenderungan Freud untuk tidak mau mengubah dugaan/hipotesis yang dibuatnya, meskipun banyak bukti-bukti yang mengatakan bahwa dugaan tersebut keliru (ini salah satu faktor yang berujung pada pengusiran murid-murid Freud, termasuk Carl Jung).

Setelah membahas tentang konsep Freud, penulis juga menuliskan kontribusi Freud dalam dunia seni dan literatur. Psikoanalisis memang besar pengaruhnya terhadap kedua dunia tersebut; Freud sendiri mengemukakan bahwa karya seni merupakan bentuk sublimasi dari fantasi (wish fulfillment) seseorang. Dalam surat-surat dan karya lainnya, Freud membuat analisis terhadap berbagai seniman, misalnya pada Leonardo da Vinci dan Dostoevsky.

Selain itu, penulis juga membahas tentang pemikiran Freud dalam kaitannya dengan budaya dan agama. Freud sendiri memang menganggap agama sebagai suatu bentuk neurosis, yang kemudian dia kemukakan dalam tulisannya yang berjudul The Future of an Illusion. Meskipun mungkin dapat menyinggung pihak-pihak yang merasa sensitif terhadap kepercayaan pribadinya, tapi saya rasa bagian ini penting untuk dipelajari sehingga menambah wacana pemahaman terhadap diri kita sendiri.

Meskipun sebenarnya Freud ingin menjadi seorang dokter yang dapat menganalisis permasalahan pasiennya dengan objektif dan berjarak (diakui karena skill, bukan karena kepribadian), pada akhirnya justru metode itu berkembang dan berpengaruh pada perkembangan psikoterapi. Ada kalimat yang saya suka, di bab terakhir: tiap orang bisa memberikan "nasihat yang bagus" pada orang yang sedang mengalami masalah, tetapi Freud mengajarkan kita bagaimana cara mendengarkan.

Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk peminat ilmu psikologi, khususnya mahasiswa psikologi yang ingin refresh pemahaman mengenai Freud dan juga menambah insight baru tentang Freud.

View all my reviews

Wednesday, January 21, 2015

Next Endeavor...

No comments:
Di film Street Fighter (1994), ada karakter namanya Chun Li yang dendam ke tokoh antagonisnya, M. Bison, karena sudah menghancurkan desa asalnya 20 tahun yang lalu. Sewaktu Chun Li akhirnya bisa konfrontasi dengan M. Bison, apa yang dibilang oleh M. Bison? "Ga tau, itu mungkin hari yang penting buat elu, tapi buat gw sih itu hari Selasa."

Nah, Selasa kemarin saya melalui hari yang penting buat saya (tapi buat orang lain sih ya itu hari Selasa aja kaya biasa): sidang Ujian Tesis. Setelah melalui ujian tersebut, saya bisa menyandang gelar M.Psi. (Mabok Psikologi).

Ada slide yang tidak sempat terpakai dalam presentasi Ujian Tesis yang baru saya lalui; saya posting di sini saja:
Life is indeed difficult, partly because of the real difficulties we must overcome in order to survive, and partly because of our own innate desire to always do better, to overcome new challenges, to self-actualize.

Happiness is experienced largely in striving towards a goal, not in having attained things, because our nature is always to want to go on to the next endeavor
- Albert Ellis 
Susah gak sih menyelesaikan tesis? Terkesan seperti optimisme buta kalau dibilang "nggak susah asal dikerjain aja terus". Tiap hari dibuka berkasnya dan juga tiap hari ketemu pembimbing ya nggak akan membuahkan hasil apa-apa kalau ngerjainnya gak beneran pakai mikir.

Nggak saya pungkiri, ada lah ya tesis yang memang lebih susah untuk diselesaikan dibandingkan dengan tesis lainnya. Kenapa lebih susah? Bisa karena memang bidang studinya yang menuntut effort lebih besar, bisa juga dari ekspektasi pembimbingnya, topik penelitiannya, atau hal-hal eksternal lainnya.

Tapi kita juga suka bikin susah diri kita sendiri.

Kita kepingin berhasil, kepingin ada peningkatan, ingin lebih maju. Untuk mendapatkan hal itu, tentu ada hal yang harus dibayar... entah dengan usaha yang lebih keras, waktu yang lebih banyak dikorbankan, atau hal-hal lainnya. Kita jadi susah ketika kita nggak mau "bayar" hal tersebut (kepinginnya mendapat lebih tanpa memberi lebih; dalam rational-emotive behavior therapy, ini disebutnya low frustration tolerance... ah tapi tidak usah lah saya bahas di sini, nanti kepanjangan).

Kalau memang sudah rela untuk "bayar", kan nggak perlu jadi masalah bersusah-susah dulu. Bagian kedua dari kalimat Albert Ellis di atas, bilang bahwa kita bisa happy bukan saat mendapatkan benda yang kita inginkan, melainkan dalam upaya mencapai target tersebut.

Jadi, the next time kita nggak happy menjalani sesuatu, katakan saja pada diri sendiri: "saya sedang berusaha untuk mendapatkan apa yang saya mau, dan meskipun ada hal-hal yang tidak menyenangkan dalam perjalanan ini, saya akan tetap dapat mengatasinya".

Terus kalau gak mau berhadapan dan mengatasi hal-hal yang tidak menyenangkan gimana? Kata Albert Ellis sih, pragmatis aja: pikir-pikir lagi apakah yang kamu inginkan itu memang benar-benar penting/bermanfaat buatmu? Kalau nggak, ya ngapain juga bikin susah diri sendiri untuk hal yang sebenarnya tidak penting dan berharga bagi dirimu... mendingan ngerjain yang lain.

Buat saya sendiri: sidang Ujian Tesis sudah selesai, dan by my nature, sekarang adalah saatnya untuk lanjut pada pekerjaan berikutnya!

On to the next endeavor!

Sunday, January 18, 2015

Tautan Mingguan #2

No comments:

  1. Ten Essential Psych Studies of 2014: Making Narcissists Empathise, Memory Boosting Spice And More…
    Ini bacaan menarik buat teman-teman yang suka ilmu psikologi, dan mau dengan cepat mengetahui temuan riset yang dianggap paling menarik di tahun 2014 lalu.
  2. 'How I Met Your Mother': The Optimism Of Inevitability
    Artikel NPR ini sebetulnya ditulis tahun 2011, tapi perspektifnya menarik. Bisa dirangkum lewat kalimat ini:

    "[...] the show is structured around a philosophy that is fundamentally this: However your life goes, that's the story of how you ended up where you are, and therefore, every turn your story took, whether sad or happy at the time, is part of how you achieved whatever joy you have."
  3. RadioTunes
    Ini situs untuk streaming musik. Sangat berguna kalau suntuk dengan kerjaan, tapi laptop yang dipakai tidak punya koleksi MP3 yang lengkap. Playlistnya ada banyak, kita tinggal pilih sesuai dengan selera (biasanya sih saya setel ke easy listening).
  4. Here Is Today
    Bagus tampilannya, bisa membuat kita punya pandangan yang lebih luas tentang periode waktu yang sedang kita lalui. Cara penyampaian informasinya menarik.
  5. Review Film 2014 - Letterboxd
    Ini wajib banget dibaca buat pecinta film yang suka nonton film di laptop (untuk referensi apa yang layak untuk diunduh).

Tautan Mingguan sebelumnya:

Tautan Mingguan #1

Wednesday, January 14, 2015

Resensi Buku | Steal Like an Artist & Show Your Work! - Austin Kleon

No comments:
Buku Austin Kleon yang baru saya selesaikan ini enak untuk dibaca. Bukunya ringan, dan sebenarnya isi kedua buku tersebut sudah terangkum dalam judulnya. Buku warna hitam tentang "bagaimana cara meniru", tapi intinya adalah teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mengembangkan kreativitas dan berkarya. Buku dengan cover warna kuning tentang bagaimana cara mengekspresikan dan mempublikasikan karya kita.

Di dalamnya banyak kata-kata mutiara yang bisa membuat kita semangat (feel-good book), meskipun belum tentu juga akan membuat kita melakukan perubahan nyata setelah membacanya. Kedua buku ini lebih cocok bagi "tipe seniman" yang sedang memikirkan tentang berkarya.

Kalau buat saya, ini buku yang pas untuk diberikan sebagai hadiah: tidak terlalu berat, isinya pun ringan, sehingga besar kemungkinan akan dibaca dan membuat si pembaca merasa senang.


Kalau tidak ada waktu untuk membaca buku yang sebenarnya cukup tipis ini, Austin Kleon bahkan menyediakan rangkuman poin-poin dari kedua buku itu di websitenya:


Sunday, January 11, 2015

Tautan Mingguan #1

No comments:
Daripada bulukan di dalam bookmark, tiap minggu saya akan berbagi 5 tautan menarik yang mungkin bermanfaat bagi pembaca blog ini.

1. "GM VS Pram"

https://boemipoetra.wordpress.com/2013/03/09/gm-vs-pram/
Klik gambar untuk menuju artikel asli
"Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa muda sampai setua ini. Sekarang saya tidak bisa menulis-baca lagi. Dalam hitungan hari, minggu, atau bulan mungkin saya akan mati, karena penyempitan pembuluh darah jantung. Basa-basi tak lagi bisa menghibur saya."
Presiden Abdurachman Wahid pernah mengajukan permintaan maaf kepada para tahanan politik Orde Baru, dan Pramoedya menolak mentah-mentah ucapan permintaan maaf tersebut. Goenawan Mohamad, yang terkenal dengan kolom Catatan Pinggir di majalah Tempo, membuat surat terbuka kepada Pram agar dia mau bermurah hati membuka pintu maaf, bagaikan Nelson Mandela yang memaafkan rezim kulit putih yang telah memenjarakannya selama bertahun-tahun.

Surat yang keren.

Lebih keren lagi, surat terbuka itu dibalas oleh Pramoedya Ananta Toer.
Kalau penasaran seperti apa surat GM kepada Pram dan apa balasannya, klik saja gambar di atas.


2. Harvard Business Review: "Things to Stop Doing in 2015"

Rangkuman:
Stop multitasking (it can be done).
Stop procrastinatingsaving work for tomorrow, and waiting to be inspired to work.
At the same time, stop working at an unsustainable pace. It makes leading more difficult, and to do things better, you have to stop doing so much.
If that’s not possible, at least stop complaining about how busy you are. Everyone will thank you.
Stop feeling like you have to be authentic all the time. It could be holding you back.
Stop holding yourself back in these five other ways, too.
Stop being so positive — research shows it’s not all that helpful for achieving your goals.
Stop overdoing your strengths (lest they become weaknesses).
And when it comes to evaluating others, stop mistaking confidence for competence.
Stop giving negative feedback as a “sandwich.
Stop overlooking the women in your organization. And stop relying on diversity training programs to fix the problem. They can’t solve it.
Speaking of things that don’t work: Stop ideating and brainstorming.

Stop trying to delight your customers all the time.
Stop searching for a silver bullet to your strategy dilemmas.
That said, stop using so many battle metaphors when you talk about strategy.
And please, stop using terrible PowerPoints and these equally terrible words in your business communications.
Stop sitting so much. Seriously.
Stop getting defensive. (Not that we’re accusing you.)
And if you can’t stop doing any of these things… stop believing that you have to be perfect.


3. "The Red Viper vs The Mountain That Rides"

Buat yang belum baca novel A Song of Ice and Fire atau nonton Game of Thrones di HBO sampai season 4, peringatan: SPOILER ALERT! Tapi seriusan ini komik yang keren banget, lebih mirip novelnya dibandingkan dengan versi HBO.

4. Peta Teori Inteligensi
 
http://www.intelltheory.com/map.shtml
Peta teori Inteligensi

Untuk yang suka belajar ilmu Psikologi, pasti pernah belajar tentang teori Inteligensi manusia. Kalau tertarik untuk mempelajari secara lebih mendalam, bisa buka situs di atas. Isinya teori inteligensi dari jaman dulu sampai yang sekarang sudah lebih banyak digunakan. Poin menariknya adalah pemetaan secara historik yang menunjukkan tokoh mana yang mempengaruhi pemikiran tokoh yang lainnya.

5. Hari Libur 2015

https://www.selasar.com/khas-selasar/hari-libur-2015
Catatan untuk liburan tahun ini, disajikan dalam bentuk poster yang enak dilihat, hehe.

Franz Kafka dan boneka yang hilang...

No comments:
Kalau kita buka google dan cari "May Benatar", kita akan sampai ke laman Huffington Post yang berisi artikel cerita Franz Kafka.

Siapa sih Franz Kafka ini?

Franz Kafka


Dia penulis novel terkenal dari Jerman, salah satu karyanya yang terkenal adalah "The Metamorphosis", tentang seorang pria yang saat bangun berubah wujud ("metamorphosis") menjadi serangga raksasa (ga tau juga kenapa bisa gitu, dan ga dijelasin sampe tamat). Isi novelnya tentang upaya si tokoh utama ini menyesuaikan dengan perubahan yang dialaminya sebagai serangga raksasa. Aneh banget ga sih premisnya. Makanya baca deh novelnya biar ga penasaran.

Saya sih ingat kalimat yang quotable banget dari Franz Kafka: "Buku harus menjadi kapak es yang memecah lautan beku dalam diri kita"

Nah, di postingan ini saya mau share cerita tentang Franz Kafka (ga tau bener ga tau ngga) yang sebetulnya dituliskan oleh May Benatar.


Ceritanya gini:

Franz Kafka berjumpa dengan seorang gadis kecil di taman tempat dia jalan-jalan setiap harinya. Gadis kecil itu menangis, karena kehilangan bonekanya sehingga merasa amat merana. Kafka menawarkan diri untuk membantu mencari boneka yang hilang itu, dan bikin janji bahwa besok mereka akan ketemu lagi di tempat yang sama.

Karena bonekanya tidak ketemu, dia menulis sebuah surat, yang seolah ditulis oleh boneka yang hilang itu dan Kafka membacakan suratnya saat bertemu dengan si gadis kecil.
"Tolong jangan meratapi kepergianku, aku sedang pergi berjalan-jalan untuk melihat dunia. Aku akan menuliskan surat berisi petualanganku".

Itu adalah surat pertama, yang disusul dengan banyak surat lainnya. Tiap kali Kafka dan gadis kecil itu bertemu, Kafka akan membacakan surat dari si boneka yang ceritanya sedang bertualang ke berbagai tempat.

Gadis kecil itu merasa terhibur.

Ketika perjumpaan rutin mereka harus berhenti, Kafka memberikan hadiah boneka kepada gadis kecil itu. Tentu saja bonekanya berbeda dengan boneka yang asli. Ada sebuah surat penjelasan kecil yang tertempel: "perjalananku telah mengubah diriku..."

Bertahun-tahun kemudian, si gadis yang sudah tumbuh besar akhirnya menemukan surat di dalam boneka baru yang tadinya belum dia baca. Kurang lebih isinya begini: "Setiap hal yang kamu cintai, pada akhirnya akan hilang. Akan tetapi pada akhirnya, cinta akan kembali dalam bentuk yang berbeda."

Maksud cerita di atas, sebagai healing story, adalah untuk membantu orang yang merasakan kehilangan ("loss") hal-hal yang mereka sayangi dalam hidup mereka. Rasa kehilangan adalah perasaan yang universal, dan bagian yang membuat kita merasakan bagaimana rasanya jadi manusia. 

Hilangnya boneka bagi si gadis kecil adalah kehilangan yang sangat mendalam baginya, dan tiap orang punya kisah "kehilangan boneka kesayangan"-nya masing-masing.

Terus, apakah tiap orang bakal dapat "cinta yang kembali dalam bentuk yang berbeda" ? Ya nggak juga lah, karena tidak tiap orang akan mendapatkan kesempatan bertemu dengan Kafka yang memahami derita kita, dan memulihkan luka itu dengan memikirkan pengganti hal yang telah hilang. 

Tentunya kita patut syukuri, kalau kita berjumpa orang yang menjadi Kafka dalam momen derita kita.