Quotes

quotes


"Those who dance are considered insane by those who cannot hear the music."— George Carlin

Thursday, January 30, 2014

Spica




Spica adalah bintang paling terang dalam konstelasi Virgo.
Kenapa paling terang?
Karena sebenarnya dia bukan satu bintang, melainkan dua bintang (binary star) yang saling mengitari satu sama lain.

Don't you think it's somewhat philosophical? 
Cahaya yang kita pancarkan dapat jadi lebih terang ketika ada bintang lain yang mendampingi kita, just like Spica.
Bagi beberapa orang yang beruntung sudah menemukan bintang lain dalam hidupnya, apakah cahayanya makin terang? Nah, kalau dibalik: ketika cahaya yang kita pancarkan tidak semakin terang, apakah artinya kita mengitari bintang yang salah?

Jika kita teruskan perumpamaan diri kita (self) sebagai sebuah bintang, rasanya bakal sulit melepaskan diri dari pasangan yang sudah melekat lama, karena orbitnya sudah menetap... hampir dapat dipastikan pergerakan hidup kita akan terus cuma begitu-begitu saja (kecuali ada bintang baru yang gaya gravitasinya lebih besar sehingga mengubah orbit bintang tersebut).

Tapi bintang di langit hanya mematuhi hukum fisika, sedangkan manusia punya kemampuan untuk memilih...

Wednesday, January 29, 2014

Heavy Boots

Kalau kita jalan dengan menggunakan alas kaki yang berat, langkah kita juga jadi terasa berat. Sepatu boots (sepatu yang dipakai dalam cuaca yang buruk, untuk melewati jalan yang terjal, atau melewati medan yang sulit) sudah pasti berat, apalagi heavy boots. Bayangkan rasanya berjalan dengan menggunakan sepatu itu (bukan boots biasa).

Klisenya, it felt like the weight of the world is on your shoulders feet.
Kalau bebannya di kaki, rasanya berat buat maju (beda dengan terbebani dari atas).

Kapan sih sepatu boots dipakai? Saat kita akan menghadapi cuaca yang berat, buruk, mengancam. Mungkin reaksi kita juga begitu saat merasa akan mengalami banyak emosi negatif... kita akan pakai "sepatu boots" kita dan mau tidak mau harus menembus "cuaca buruk" itu. Langkahnya berat...

The brighter part of the story: dalam analogi sepatu ini, sebenarnya ada pilihan untuk "memakai" sepatu yang lebih nyaman. Tapi jadi masalah ketika heavy boots adalah satu-satunya sepatu yang kita miliki, tidak ada orang lain yang dapat meringankan langkah kita dengan meminjamkan sepatu mereka, dan tidak ada yang dapat menemani untuk sama-sama berjalan menembus cuaca yang buruk ini.

Tuesday, January 28, 2014

8 Menit


Jika mendadak matahari meledak dan menghilang, kita tidak akan menyadari hal itu selama 8 menit karena itulah waktu yang dibutuhkan oleh cahaya matahari untuk mencapai kita.
Selama 8 menit itu... dunia akan masih tetap terasa terang, hangat, dan semuanya masih baik-baik saja.
Tapi lama-kelamaan 8 menit itu akan habis, dan barulah kita merasakan gelap dan dinginnya dunia tanpa matahari.

Rupanya seperti itu juga yang secara psikologis kita alami saat kehilangan hal-hal tertentu yang penting dalam hidup kita. Awalnya tidak langsung terasa, malah mungkin setelah lama terjadi rasa sedihnya baru terasa. Mungkin 8 menit milik saya sendiri juga sudah mulai habis (ditambah lagi cuacanya juga betulan dingin).

Bahasan di atas muncul juga di film Incredibly Loud and Extremely Close. Ini film yang bagus buat orang-orang yang berduka, saya merasakan ada nilai therapeutic tersendiri di film ini.

Sunday, January 26, 2014

Takotsubo

Did you know that you can almost literally die of a broken heart?

Kalau gak percaya, googling aja Takotsubo. Istilah medisnya: Stress Cardiomyopathy. Di film-film kartun, tiap kali karakternya ada yang patah hati, biasanya muncul gambar hati yang retak (terus karakternya roboh). Rupanya di dunia nyata juga yang beginian bisa terjadi.

Di bidang psikologi, kaitan antara faktor psikis dan juga fisiologis memang erat (ada istilahnya sendiri, jaman dulu disebutnya psychophysiological). Penyakit jantung banyak berkorelasi dengan masalah kesehatan mental, misalnya depresi (rencananya siiiih, ini tesis saya) atau kondisi emosional lainnya.

Jadi apaan sih "takotsubo" itu?

Takotsubo itu sebenarnya bahasa Jepang, yaitu pot jebakan buat mancing gurita, yang bentuk potnya mirip dengan jantung (dan sedang terkena serangan jantung). Ketika terpicu oleh stres berat (agar sesuai dengan tema postingan ini, contohnya: diputusin, ditolak, dikhianati, dicuekin, dijauhi, dan seterusnya), sebagian dari jantung kita membesar dan tidak memompa darah dengan baik (sementara sisanya tetap seperti biasa, bahkan ada yang kontraksinya jadi lebih kuat).

Hal inilah yang menimbulkan rasa sakit dan sesak di dada (chest pain) dan sesak nafas (shortness of breath) ketika kita patah hati. Kalau intensitasnya lebih parah, simptomnya mirip dengan serangan jantung (cardiac arrest). Banyak lagu, film, atau karya seni lain yang temanya how to heal a broken heart, tapi prosesnya sendiri tidak selalu menyenangkan :D

Jadiii... jangan mau sering-sering patah hati, karena memang berbahaya (bukan cuma bisa menimbulkan luka psikologis, mati beneran juga bisa). Pilihlah orang, kegiatan, atau situasi yang bikin kamu bahagia! Kalau lingkungan tidak bisa diubah, boleh juga (cara berpikir) kita yang diubah (hubungi psikolog terdekat kalau mau belajar bagaimana caranya :D).

Sumber:
Is Broken Heart Syndrome Real?
Depression and Heart Syndrome
http://www.takotsubo.com/

Sunday, January 5, 2014

Yang Saya Baca di Tahun 2013

2013 Reading Challenge

2013 Reading Challenge
Agoes has read 47 books toward his goal of 60 books.
hide

Ada perkataan dari Cicero, "ruangan tanpa buku bagaikan tubuh tanpa jiwa". Jika diibaratkan buku yang kita baca merupakan cerminan jiwa kita, rasanya tahun 2013 kemarin kurang oke buat saya (baik dalam hal penyelesaian target membaca buku, maupun hal-hal lainnya). Saya mentargetkan untuk membaca 60 buku, tetapi hanya 47 buku yang bisa saya selesaikan (tahun sebelumnya saya bisa mencapai target 60 buku).

Saya memang lebih sibuk dibandingkan tahun 2012, tapi seharusnya sih saya bisa memenuhi target tersebut. Dalam bayangan awal saya, sebagai mahasiswa yang melanjutkan studi S2 -nya, saya akan lebih banyak membaca buku. Tapi kenyataannya banyak hal-hal yang terjadi yang membuat saya tidak bisa membaca sebanyak itu.

Kalau buku yang kita pilih untuk dibaca juga mencerminkan isi pikiran kita, berarti saat saya menuliskan tentang buku yang saya baca di tahun lalu... rupanya saya secara tidak langsung juga sedang membuat kaleidoskop kehidupan saya di tahun sebelumnya. Saat saya melihat kembali daftar bacaan di tahun tersebut, kadang kepikiran "oh, waktu itu saya lagi mikir begini..., waktu itu saya pergi ke sini...", dan semacamnya. Rupanya meninggalkan "jejak" buku yang sudah dibaca di internet bermanfaat juga.

Tahun 2014 ini bagaimana ya? Saya bertekad untuk kembali mentargetkan membaca 60 buku. Meskipun tidak ada jaminan bahwa target itu pasti akan tercapai, tapi membuat target dan bertekad untuk mencapai sesuatu itu tidak ada salahnya kan :) Setidaknya kita tidak berdiam di satu titik, tetapi sudah mulai mempunyai arah.

Tuesday, December 31, 2013

Year End

Berdasarkan kalender Gregorian, bulan Desember adalah bulan terakhir dalam satu tahun. Dari pertama kali saya sekolah (kecuali sekarang), bulan Desember selalu menjadi saat-saat berakhirnya waktu sekolah dan dimulainya waktu liburan. Setelah bulan penutup tahun, datanglah bulan Januari dengan tahun yang baru. Banyak orang yang menggunakan momen ini untuk membuat resolusi tahun baru, dengan mencatat hal-hal apa yang ingin mereka raih atau lakukan di tahun tersebut.

Tapi, seringkali resolusi itu tidak terwujud. Bukan semata-mata karena kekurangan atau kelemahan orang tersebut, tapi mungkin karena memang sifat manusia yang tidak ingin berubah. Kita cenderung mencari kondisi homeostatis (keseimbangan), sehingga berubah itu bukan suatu hal yang mudah untuk dicapai.

Jadi apakah sebaiknya orang-orang membuat resolusi tahun baru? Menurut Alain de Botton, sebaiknya sih iya:
We don’t tend to make resolutions about things we completely believe in. Few of us would ever resolve to be appalled by war or disease.  It just comes naturally.  But we do resolve all the time to be kinder or more hardworking, because a sizeable part of us loves being cruel and sitting around.  A resolution always hovers over a grave inner conflict and constitutes a vow by one part of ourselves against another.  Which is why – according to some - we should never be so foolish as to make a resolution.

And yet we need resolutions - even if we don’t actually manage to carry them through or rather, precisely because we rarely manage to do so.  Trying to lead a moral and a good life must mean regularly daring ourselves to be good.  It’s sometimes said that deep down we are all essentially honest, well-meaning and kind.  I’m not too sure: left to our own devices, we have a frightening tendency to be self-indulgent, selfish, narcissistic and lazy.  So we need resolutions for the same reason as we need laws: to keep ourselves in check.

A resolution is a voluntary abdication of our freedom and immediate gratification in the interests of a higher goal.  As such, it is a symbol of civilization, defined as an institution which regulates our wilder, more destructive desires for the sake of the common wealth and our own flourishing.  Resolutions are minor laws that we pass against our unruly selves.

We might be tempted to mock the public nature of resolutions.  Why resolve things at New Year? Why tell people? Precisely for the same reason that we tend to go in for public marriage: because it can be useful to back up our own resolve with the pressure that stems from the expectation of others.  It is often not bad enough to let ourselves down, so in addition, we need the fear of letting lots of people down to keep us on track.  By being declared in public, a resolution gains confirmation and amplification.  We can use the energy that surrounds the birth of a new year to lend our own inner change some impetus.

Jadi, apa resolusi tahun baru 2014 kalian? (ada buanyaaaaak tips dan kiat-kiat membuat resolusi tahun baru di internet, googling aja)

Monday, December 30, 2013

Perrault

Selain Hans Christian Andersen dan Grimm Brothers, penulis dongeng yang populer pada abad ke-17 adalah Charles Perrault. Salah satu cerita yang diciptakannya adalah Cinderella. Cerita ini kemudian diadaptasi oleh Disney, dan seperti kebanyakan cerita dongeng lainnya, disesuaikan dengan kondisi di jamannya agar sesuai dengan karakteristik penonton yang diinginkan produser.

Kisah Cinderella yang asli lebih brutal, tapi yang menarik adalah pesan moral yang disampaikan oleh penulisnya sendiri:
Cantik, rendah hati, tekun, dan berbagai sifat baik lainnya tidak ada gunanya kalau anda tidak punya koneksi.
 Hah. Iya juga ya. Kalau misalnya tidak ada fairy godmother yang menghubungkan Cinderella dengan pesta dansa, jalan ceritanya akan sangat berbeda.

Jangan-jangan ada benarnya juga yang dibilang Perrault ini.