Quotes

quotes


"Those who dance are considered insane by those who cannot hear the music."— George Carlin

Monday, December 1, 2014

Bagian Mikir...

No comments:
Rasanya sering banget ada orang yang merasa punya ide bagus, lalu meminta orang lain melaksanakan ide tersebut dan saat ide itu sudah dieksekusi, dia merasa bahwa dialah yang paling berjasa (soalnya dia yang udah cape-cape mikir dengan briliannya). Sering banget dalam sekelompok orang yang memulai usaha, ada aja orang yang ingin jadi "idea guy", alias berkontribusi dengan cara memberikan ide-ide dan gagasan saja

"Bagian mikir".

Ada komentar di situs Quora yang kurang lebih menjawab topik ini:
Can you identify this image?


How about this one?


The first one is Oswald The Lucky Rabbit, Walt Disney's first hit character. After some initial success with Oswald, Universal Studios (who owned Oswald's copyright) severed its relationship with Walt Disney, hired the majority of his creative team and began creating Oswald cartoons. Although an additional 140 Oswald episodes were produced over the next 14 years, none of them was nearly as successful as the first 26 installments, which were developed under Walt Disney’s tutelage.

As shown in the second picture, Walt dusted himself off, shortened Oswald's ears so he looked like a mouse, and went on to kick Oswald's ass.

Universal thought the key was Oswald (the idea), whereas Disney knew the key was in the execution of the cartoon.
- John Greathouse, Quora Answer


Baca komentar di atas, rasanya saya setuju: tidak cukup hanya melontarkan ide saja (habis itu diam), yang penting adalah follow-up dari ide itu, yaitu ikut terjun dalam eksekusi alias pelaksanaan, ikut berkontribusi dengan tenaga, waktu, dan sumberdaya lainnya.

Monday, November 24, 2014

Tikusnya Banksy

3 comments:

Di Inggris, ada graffiti artist terkenal dengan nama samaran "Banksy". Dia banyak membuat karya yang sekaligus merupakan kritik sosial atau politik. Kalau kita sering browsing internet, hampir pasti pernah lah liat karyanya (apalagi kalau buka situs agregat meme/gambar kayak 9gag).


Nah, saya lagi baca salah satu buku kompilasi karyanya, judulnya Wall and Piece. Salah satu kategori gambar yang dibikin Banksy adalah gambar tikus (melakukan kegiatan manusia). Jadi ceritanya dia ngegambar tikus (rat) selama 3 tahunan, soalnya bisanya ngegambar itu. Tapi ada orang komentar, "wah elu pinter ya pake tikus, itu simbol dari salah satu sifat manusia, dan juga anagram dari art".

Terus ya ga mungkin kan Banksy bilang dia juga baru kepikiran kaya gitu, tengsin, jadi dia (pura-pura) bilang aja bahwa "ya begitulah, emang itu tujuan gw dari semula".

Nampaknya ini pengalaman yang cukup universal, soalnya tidak jarang kita dianggap oleh orang lain sudah menghasilkan suatu pemikiran yang lebih mendalam dan luar biasa, padahal kita mah mikirnya biasa aja dan ga sejauh itu, hehehe.

Monday, October 20, 2014

Fill In The Blank

1 comment:

Saya nemu gambar ini sewaktu baca-baca artikel di internet.

Gambar apa yang anda lihat di atas?
Gambar perempuan kan ya, kebanyakan mungkin menjawab begitu.

Tapi kok kita tidak lihat bahwa itu adalah gambar orang yang tidak punya lubang hidung, 8 lembar rambut, dan tanpa bulu mata? Tanpa kita sadari, kita "mengisi bagian yang kosong" dan menganggap bahwa gambar orang di atas sudah utuh dalam pikiran kita.
 
Mungkin mahasiswa Psikologi masih ingat penjelasan mengenai Gestalt Psychology di semester awal.

Rupanya seringkali pikiran kita secara otomatis berupaya untuk menyusun sesuatu yang bermakna dari apa yang kita lihat, baik saat menjumpai data yang acak, saat melihat pola-pola visual, maupun saat kita melihat orang lain.

Seringkali saat kita mengenal orang lain, sebenarnya masih ada informasi yang "kosong", tapi kita secara otomatis "mengisi bagian yang kosong" tersebut tanpa kita sadari.

Mungkin ini sebabnya kita seringkali merasa sudah kenal seseorang (merasa doang, sebenarnya nggak juga), dan mereka-reka seperti apakah orang itu berdasarkan gambaran yang ada di dalam kepala kita sendiri. Itu juga sebabnya banyak yang sering merasa terkejut ketika orang yang ada di dalam gambaran mereka sendiri melakukan sesuatu yang tidak terduga, padahal memang sebenarnya kita saja yang belum mengenal orang tersebut.

Apa yang kita lakukan itu sama dengan apa yang kita lakukan dengan gambar orang di atas: kita menganggap itu adalah gambar perempuan secara utuh, padahal informasi yang kita punya baru berupa sketsa.

P.S.: Ternyata saya udah lama banget nggak posting. Kalau blog ini adalah kamar/lemari, debunya udah numpuk. Semoga bisa kembali sering-sering posting di sini.

Tuesday, July 29, 2014

Resensi Buku | The Five Languages of Appreciation in the Workplace - Gary Chapman

No comments:
The Five Languages of Appreciation in the Workplace: Empowering Organizations by Encouraging PeopleThe Five Languages of Appreciation in the Workplace: Empowering Organizations by Encouraging People by Gary Chapman
My rating: 3 of 5 stars

Buku yang dibuat oleh penulis The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate ini merupakan penerapan dari konsep buku yang serupa dalam konteks dunia kerja. Premis dasarnya mirip: tiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai berbagai macam hal, misalnya dalam mengekspresikan kasih, meminta maaf, mengekspresikan marah, dan juga menunjukkan apresiasi. Menurut Gary Chapman, perbedaan tersebut dapat dikategorikan dalam "5 Bahasa".

Secara ringkas, 5 Bahasa tersebut adalah:
1. Words of Affirmation: pujian atau kata-kata afirmasi positif terhadap pencapaian yang telah dilakukan seseorang.
2. Quality Time: pemberian "waktu" bagi seseorang, misalnya dengan mau mendengarkan apa yang sudah dilakukan, mau melakukan kegiatan bersama-sama, atau bekerja dalam jarak yang dekat.
3. Acts of Service: memberikan pelayanan atau bantuan kepada orang lain agar dia merasa dihargai dalam pekerjaannya, tentunya sesuai dengan kebutuhannya dan juga dilakukan secara tulus.
4. Tangible Gifts: apresiasi berupa benda nyata, yang tentunya sesuai dengan pribadi yang menerima hadiah tersebut.
5. Physical Touch: sentuhan fisik dalam kadar yang sesuai, meskipun tidak terlalu sering menjadi "bahasa utama" dalam konteks pekerjaan.

Tiap orang "berbicara" dengan "bahasa" yang berbeda-beda, seringkali hanya satu atau dua "bahasa" saja yang dijadikan sebagai "bahasa primer". Orang akan merasa sangat diapresiasi ketika orang lain juga menggunakan "bahasa" yang sama dengan dirinya. Namun, terkadang ada blind spot dalam diri kita, yang membuat kita tidak dapat melihat dengan jelas apa "bahasa" yang digunakan oleh orang lain, sehingga kita maupun orang lain merasa tidak atau kurang diapresiasi dalam lingkungan pekerjaan.

Buku ini cukup sederhana, meskipun menurut saya terlalu panjang pada bagian tertentu (khususnya di bab belakang). Namun secara umum, buku ini cukup oke untuk dibaca bagi mereka yang berada di dalam lingkungan kerja dan ingin belajar untuk dapat melakukan apresiasi dengan lebih baik.

View all my reviews

Wednesday, May 21, 2014

Resensi Buku | The Mysterious Affair at Styles - Agatha Christie

No comments:
The Mysterious Affair at Styles (Hercule Poirot, #1)The Mysterious Affair at Styles by Agatha Christie
My rating: 4 of 5 stars

Agatha Christie sangat terkenal sebutan The Queen of Crime dengan novel-novel detektifnya. Hampir setiap cerita memiliki jalan cerita (plot twist)yang tidak terduga. Perjalanan karirnya sebagai penulis sangatlah panjang, dan perjalanan itu dimulai dari novel ini: The Mysterious Affair at Styles.

Captain Hastings, narator cerita ini (dan juga banyak kisah Agatha Christie yang lainnya) diundang oleh teman lamanya, John Cavendish, ke Styles Manor. Setibanya di sana, dia menjumpai bahwa ibu angkat John (Mrs. Inglethorp, yang sudah berusia 70 tahunan) menikah lagi dengan Alfred Inglethorp, pria yang jauh lebih mudah dibandingkan dirinya. Selain itu, di rumah itu Captain Hastings juga bertemu dengan Mary Cavendish, Lawrence Cavendish, Dr. Bauerstein, Evelyn Howard, dan Cynthia Murdoch.

Pada suatu malam, Mrs. Inglethorp meninggal karena keracunan strychnine. Peristiwa kematian ini membawa banyak kejanggalan, sehingga Poirot, yang kebetulan tinggal di desa dekat Styles Court, datang untuk memecahkan kasus tersebut.

Untuk yang sudah terbiasa membaca novel Agatha Christie, khususnya novel Poirot, mungkin akan merasa bahwa karakter Poirot di sini masih terlalu “aktif”, karena dia sibuk mencari-cari barang bukti dan mondar-mandir untuk bertanya pada saksi. Dalam novel-novel Agatha Christie yang selanjutnya, karakter Poirot lebih “khas”, mulai dari sifat sok pinter-nya, OCD-nya, dan juga kemampuan analisanya. Ada penggemar Agatha Christie yang mengamati bahwa dalam versi awal ini, karakter Poirot masih dipengaruhi oleh Sherlock Holmes (yang juga dibahas di novel ini). Di novel lain, Poirot cukup mendengarkan cerita saja tanpa perlu datang ke TKP pun sudah bisa menyelesaikan kasus.

Settingnya cukup jauh dari keseharian kita. Styles Court ada di Inggris jaman Perang Dunia I, sehingga tokoh-tokohnya jauh dari kehidupan modern. Gaya berpikir, mengekspresikan diri, dan bertingkah laku juga berbeda sehingga karakter tersebut terasa asing. Novel ini juga cukup “fair” dalam memberikan petunjuk, sehingga sebenarnya kita dapat menduga siapa pelakunya jika kita dapat menyimak "petunjuk" yang tertulis dengan seksama.

Apakah novel ini menarik dan layak baca? Buat saya sih novel ini jelas menarik. Saya sih melihatnya begini:

Di buku ini, kita “pertama kali” bertemu dengan Poirot melalui narasi Captain Hastings. Poirot di sini tidak sama dengan Poirot yang akan kita jumpai bila kita membaca novel Agatha Christie yang diterbitkan setelah buku ini. Tapi saya tetap suka membaca buku ini. Ibaratnya seperti kita baru berkenalan dengan seseorang, yang muncul adalah kesan pertama. Begitu juga di sini, kesan pertama kita tentang Poirot sebagai “detektif” mulai terbangun dan ada ketertarikan untuk membacanya hingga selesai. Setelah ada ketertarikan, kita ingin membaca buku Poirot yang lain, dan kita serasa menemukan sisi yang lebih mendalam dari Poirot, dan lama-lama kita akan jatuh cinta dengan karakter ini.

Buku ini juga ada di public domain, sehingga dapat diperoleh secara gratis di internet juga ada yang tertarik untuk membacanya. Jadi, selamat membaca!

View all my reviews

P.S.: Posting ini dibuat dalam rangka keikutsertaan dalam Klub Buku Sel-Sel Kelabu bulan Mei.  

Thursday, January 30, 2014

Spica

No comments:



Spica adalah bintang paling terang dalam konstelasi Virgo.
Kenapa paling terang?
Karena sebenarnya dia bukan satu bintang, melainkan dua bintang (binary star) yang saling mengitari satu sama lain.

Don't you think it's somewhat philosophical? 
Cahaya yang kita pancarkan dapat jadi lebih terang ketika ada bintang lain yang mendampingi kita, just like Spica.
Bagi beberapa orang yang beruntung sudah menemukan bintang lain dalam hidupnya, apakah cahayanya makin terang? Nah, kalau dibalik: ketika cahaya yang kita pancarkan tidak semakin terang, apakah artinya kita mengitari bintang yang salah?

Jika kita teruskan perumpamaan diri kita (self) sebagai sebuah bintang, rasanya bakal sulit melepaskan diri dari pasangan yang sudah melekat lama, karena orbitnya sudah menetap... hampir dapat dipastikan pergerakan hidup kita akan terus cuma begitu-begitu saja (kecuali ada bintang baru yang gaya gravitasinya lebih besar sehingga mengubah orbit bintang tersebut).

Tapi bintang di langit hanya mematuhi hukum fisika, sedangkan manusia punya kemampuan untuk memilih...

Wednesday, January 29, 2014

Heavy Boots

No comments:
Kalau kita jalan dengan menggunakan alas kaki yang berat, langkah kita juga jadi terasa berat. Sepatu boots (sepatu yang dipakai dalam cuaca yang buruk, untuk melewati jalan yang terjal, atau melewati medan yang sulit) sudah pasti berat, apalagi heavy boots. Bayangkan rasanya berjalan dengan menggunakan sepatu itu (bukan boots biasa).

Klisenya, it felt like the weight of the world is on your shoulders feet.
Kalau bebannya di kaki, rasanya berat buat maju (beda dengan terbebani dari atas).

Kapan sih sepatu boots dipakai? Saat kita akan menghadapi cuaca yang berat, buruk, mengancam. Mungkin reaksi kita juga begitu saat merasa akan mengalami banyak emosi negatif... kita akan pakai "sepatu boots" kita dan mau tidak mau harus menembus "cuaca buruk" itu. Langkahnya berat...

The brighter part of the story: dalam analogi sepatu ini, sebenarnya ada pilihan untuk "memakai" sepatu yang lebih nyaman. Tapi jadi masalah ketika heavy boots adalah satu-satunya sepatu yang kita miliki, tidak ada orang lain yang dapat meringankan langkah kita dengan meminjamkan sepatu mereka, dan tidak ada yang dapat menemani untuk sama-sama berjalan menembus cuaca yang buruk ini.