Quotes

quotes


"Those who dance are considered insane by those who cannot hear the music."— George Carlin

Sunday, May 12, 2013

I'm Blue DA-BA-DEE-DA-BA-DAA

No comments:

Yo listen up here's a story
About a little guy that lives in a blue world
And all day and all night and everything he sees Is just blue
Like him inside and outside
Blue his house with a blue little window
And a blue Corvette
And everything is blue for him
And himself and everybody around
'Cause he ain't got nobody to listen


I'm Blue da ba dee da ba daa
da ba dee da ba daa, da ba dee da ba daa, da ba dee da ba daa
da ba dee da ba daa, da ba dee da ba daa, da ba dee da ba daa [x2]

I have a blue house with a blue window
Blue is the color of all that I wear
Blue are the streets and all the trees are too
I have a girlfriend and she is so blue
Blue are the people here that walk around
Blue like my Corvette, it's in and outside
Blue are the words I say and what I think
Blue are the feelings that live inside me

I'm Blue da ba dee da ba daa
da ba dee da ba daa, da ba dee da ba daa, da ba dee da ba daa
da ba dee da ba daa, da ba dee da ba daa, da ba dee da ba daa [x2]

Inside and outside
Blue his house with a blue little window
And a blue Corvette
And everything is blue for him and himself
And everybody around
'Cause he ain't got nobody to listen


I'm Blue da ba dee da ba daa
da ba dee da ba daa, da ba dee da ba daa, da ba dee da ba daa
da ba dee da ba daa, da ba dee da ba daa, da ba dee da ba daa [x2]
Music Video di atas judulnya "I'm Blue", dari kelompok musik Eiffel 65. Sebenarnya lagunya udah agak jadul (1999), tapi baru-baru ini dipakai lagi untuk intro film Iron Man 3. Lagunya memang catchy sih, hehehe.

Pas dibaca-baca liriknya, ternyata menarik dan ada momen-momen "iya-juga-ya". Saya kasih bold di bagian yang saya suka.
[...] a little guy that lives in a blue world
And all day and all night and everything he sees Is just blue
Like him inside and outside
Blue his house with a blue little window
And a blue Corvette
And everything is blue for him
Bagian ini bikin saya mikir: sebenarnya kita kan mengkonstruksi dunia di sekeliling kita sehingga jadi sama dengan konsep yang ada di dalam dunia pikiran kita ya? Kalau dalam diri saya biru, saya juga akan mencari lingkungan yang biru. Dalam pikiran isinya biru, yang keluar juga biru. Dalam diri kita ada bayangan tentang pacar dengan kriteria biru, kita juga akan mencari yang biru. Dalam pikiran saya yang bagus-bagus adalah gagasan biru, maka saya akan melengkapi diri saya dengan berbagai hal yang meneguhkan kebiruan saya.

Konsekuensinya?
[...] everything is blue for him and himself
And everybody around
'Cause he ain't got nobody to listen 
Kalau kita hidup di dunia warna biru, warna kuning jadi asing buat kita. Mungkin kita mengabaikan warna kuning. Mungkin juga kuning dipaksain jadi biru. Padahal buat orang lain, mungkin dunia itu warnanya kuning, bukan biru. Ada juga yang merah, ungu, atau warna-warni lainnya. Nampaknya perlu kesadaran tersendiri untuk tahu bahwa ada banyak warna di dunia ini yang berbeda dengan kita.

Satu lagi: beda warna itu tidak harus selalu diselesaikan dengan cara warnanya dibuat jadi sama.

Ngomong-ngomong, liriknya kadang kedengaran seperti "I'm Blue, if I were Green I would die". Bisa juga sih dimaknakan "kalau memang biru, jadilah biru, ga usah dipaksain jadi hijau" atau kalau mau disederhanakan lagi: "jadilah dirimu sendiri".

P.S.: Biar tetap berbau psikologi, saya mau tambahin sedikit cerita di postingan ini. Dalam psikoterapi, ada tokoh bernama Aaron Beck yang mengembangkan Cognitive Therapy. Prinsip dasarnya: emosi yang kita rasakan berasal dari bagaimana pikiran kita memaknakan suatu peristiwa. Jadi kalau pikiran kita negatif, maka kita juga akan merasakan emosi negatif.

Menurut Beck, salah satu cara mengatasi gangguan psikologis yang bersifat emosional adalah dengan cara mengubah cara berpikir kita. Dalam bukunya, diceritakan seorang pasien depresi yang dunianya benar-benar depresif sekali. Semua dipersepsikan negatif dan menyedihkan.

Anaknya lama ganti baju, dia persepsikan bahwa dia adalah ayah yang buruk, tambah depresi. Pas lagi di jalan tol dia disusul mobil lain, dia persepsikan bahwa dia adalah pengemudi yang payah, tambah depresi. Waktu tiba di kantor, dia bukan orang yang pertama sampai di kantor, dia persepsikan bahwa dia bukan karyawan teladan, tambah depresi.

Kira-kira mirip dengan lagu di atas, dunianya jadi warna depresi semua, hehe. Padahal sebenarnya ga harus warna itu, tapi karena dia memilih warna itu, maka emosinya terganggu dan jadilah dia depresi. Jadi, warnailah dunia anda dengan warna yang mencerahkan! :D

Sunday, May 5, 2013

IDENTITY dan RESPECTFUL

No comments:
Lagi baca-baca ulang buku Intentional Interviewing and Counseling (Ivey, Ivey, & Zalaquett, 2010), ketemu akronim IDENTITY dan RESPECTFUL. Keduanya digunakan untuk lebih memahami diri sendiri ketika menjalin relasi dengan orang lain khususnya dalam interview dan konseling.

Saya posting di sini untuk mengingatkan diri saya dan juga biar bisa dibaca oleh orang lain, siapa tau bermanfaat.


Wednesday, April 24, 2013

Pertanyaan Paul Meehl Pada Mahasiswa Doktoral Psikologi Klinis

No comments:
Pada pidato sambutannya sebagai President American Psychological Association di tahun 1962, Paul Meehl bercerita seperti ini:
Ada sebuah pertanyaan yang hampir tidak pernah dijawab dengan benar oleh mahasiswa doktoral program Klinis kita dalam ujian lisan PhD, dan mereka nampaknya tidak suka dengan jawaban yang diberikan oleh penguji.

Anggaplah anda diminta menuliskan suatu prosedur untuk memilih seorang individu dari populasi umum, yang kalau didiagnosa oleh staf psikiatri, hasilnya diagnosa skizofren. Anda diminta mempertaruhkan $1000 atas kebenaran jawaban anda. Di dalam prosedur pemilihan itu, anda tidak diperbolehkan mencantumkan fakta perilaku apapun, seperti simptom atau trait yang nampak pada individu tersebut.

Apa yang akan anda tulis?

Sebenarnya ada satu jawaban yang peluang benarnya lebih dari 50%, tulis saja "Carilah individu X yang punya saudara kembar identik dengan diagnosa skizofren."
Mahasiswa Psikologi yang hidup di tahun 2013 dan membaca literatur modern (bukan mengandalkan literatur yang lebih jadul dari tahun proklamasi Republik Indonesia) tidak akan merasa aneh dengan cerita di atas. Di berbagai buku Abnormal Psychology, dituliskan dengan jelas tentang peran faktor biologis dalam etiologi Skizofren. Tapi bagi mahasiswa doktoral tahun 1962 di Amerika, itu merupakan pertanyaan yang sangat sulit, soalnya waktu itu paradigma behavioristik masih dalam masa kejayaannya.

Banyak sekali ahli pada jaman itu yang bersikeras bahwa faktor primer dari gangguan jiwa adalah pengalaman sosial dan interpersonal. Ilmuwan behavioral memusatkan perhatian mereka pada pembelajaran dari lingkungan (environmental learning). John B. Watson sendiri menyangkal peran heredity (keturunan), dan pendapat ini diikuti oleh murid-muridnya. Waktu itu, pemikirannya begini: kalau ada yang kena mental disorders, itu pasti akibat proses belajar.

Dari cerita di atas, kelihatan bahwa suatu pemikiran yang kuat waktu jaman dulu bisa terbukti salah dan tergantikan oleh pemikiran baru. Teori itu ga selamanya bener, bisa jadi salah ketika faktanya menunjukkan bahwa teori itu salah. Dari fakta itu, dibikinlah teori baru. Dalam sains, teori itu dibentuk dari fakta yang ditemukan secara empirik di lapangan, bukan tau-tau jatuh dari langit dan diperlakukan sebagai kebenaran sejati. Jadi wajar saja kalau ada teori yang salah dan digantikan oleh teori baru. Teori itu mengikuti fakta empirik, bukan fakta yang dipaksakan biar jadi matching dengan teori jadul kita (ini terbalik).

Yang aneh itu adalah saat fakta menunjukkan bahwa teori kita keliru, tapi kita tetap maksa pakai teori itu dan ga mau memperbaiki pemikiran kita dengan teori baru.

Tuesday, April 16, 2013

Pace

No comments:
B.F. Skinner
 Hari ini saya membaca tentang sejarah dan teori-teori klasik di salah satu buku teks Psikopatologi yang dijadikan referensi oleh seorang dosen. Salah satu teori klasik yang dibahas adalah teori learning, yaitu classical conditioning dan operant conditioning. Kedua konsep ini merupakan teori yang pasti diajarkan kepada seluruh mahasiswa S1 Psikologi; rasanya hampir tidak ada mahasiswa Psikologi yang tidak pernah mendengar nama Pavlov atau Skinner.

Kembali ke buku itu: penjelasan tentang learning itu cuma satu halaman saja (hurufnya kecil-kecil sih, tapi tetap saja cuma jadi satu halaman). Saya jadi teringat lagi waktu saya masih kuliah S1, dulu materi ini diajarkan di mata kuliah Psikologi Umum II, dan saya perlu menghabiskan waktu satu pertemuan tatap muka (sekitar 100 menit) hanya untuk dapat memahami konsep ini. Setelah itu pun saya masih harus pergi ke perpustakaan untuk membaca penjelasan tambahan di buku teks yang jadi rujukan (entah itu karena saya rajin atau memang saya yang rada bodo aja karena tidak cepat paham).

Sekarang? Satu halaman itu bisa saya habiskan dalam waktu kurang dari 1 menit. Pastinya lebih cepat karena saya sudah paham konsep itu sebelumnya. Tapi jadi kepikiran ini: saya merasa sangat berterima kasih pada dosen-dosen saya di S1 yang bersedia "memperlambat" kecepatan (pace) mereka sehingga dapat diikuti oleh mahasiswa S1 yang saat itu masih ada di semester 2.

Saya bersyukur juga diberi kesempatan untuk memegang peran lain selain menjadi mahasiswa, yaitu menjadi asisten dosen dan pembimbing usulan penelitian. Mahasiswa S2 Psikologi harus mencoba sendiri bagaimana rasanya mengajar mahasiswa S1. Berjalan dengan kecepatan yang berbeda itu perlu usaha tersendiri rupanya. Melalui pengalaman ini, saya mendapatkan kesempatan untuk melihat proses pembelajaran dari sudut pandang yang lain. Mudah-mudahan hal ini juga membantu saya untuk lebih empati pada dosen saat menghadapi kami.

Sebenarnya, perbedaan pace ini sangat terasa di S2, sewaktu dosen tidak lagi "menyuapi" kita dengan materi, dan jelas tidak akan menunggu kita selesai "mengunyah" materi yang harusnya sudah kita kuasai sendiri. Kalau sampai tidak sanggup mengikuti, itu karena kita kurang mempersiapkan diri. S2 ini mengubah cara berpikir kita untuk tidak lagi menunggu apa yang diberikan oleh dosen, tetapi lebih aktif belajar mandiri. Pengalaman bekerja dan juga mengajar selama 2 semester sebelumnya membantu saya melakukan adjustment dalam menghadapi perubahan pace ini. 

Sekarang saya sudah masuk penjurusan, dan kembali harus melakukan adjustment lagi. Kalau S1 masih pakai gigi 1 dan semester kemarin sudah harus pakai gigi 2, berarti sekarang sudah waktunya pakai gigi 3. Jelas lajunya akan jauh lebih kencang. Yang tidak lekas melakukan adjustment akan tertinggal jauh, tetapi bila kita melakukan adjustment dengan baik, kita akan dapat menikmati perjalanan dengan laju yang kencang ini.

Ayok ah, semangat hadapi semester 2 ini! (ngomong ke diri sendiri)

Tuesday, April 2, 2013

Carl Rogers: "Healy might be wrong"

No comments:
 http://www.whatispsychology.biz/wp-content/uploads/2012/01/Carl-Rogers-Humanistic-Psychology.jpg
Saya dan teman-teman di KLD memulai semester baru ini dengan mempelajari kembali konsep-konsep utama dalam ilmu Psikologi. Salah satu materi umumnya adalah mengenai tiga mazhab besar dalam Psikologi, yaitu Psikoanalisa, Behavioristik, dan Humanistik. Waktu bang Leo memberikan materi ini, saya merasa paling tertarik dengan materi Humanistik, terutama cerita-cerita beliau dalam praktik pribadinya.

Saya pernah mampir ke rumah bang Leo yang ada di jalan Banda. Dari yang saya baca di buku Dialog Psikologi Indonesia (ini juga bacaan bagus buat mahasiswa Psikologi), bang Leo ini adalah satu dari tiga psikolog yang pertama kali pasang papan praktik pribadi di Bandung waktu itu (jaman Orde Lama kali ya). Yang satunya lagi bu Sawitri, sedangkan yang terakhir saya lupa. Papan praktiknya cukup jadul, dengan istilah bahasa Belanda: Psycholoog. Biarpun hanya praktik di rumah, tapi beliau selalu kedatangan klien karena memang sudah terkenal sebagai pakar dan juga sering mendapatkan rujukan klien dari psikolog lain.

Karena "terpancing" untuk belajar lebih jauh tentang pemikiran Rogers, di rumah saya memutuskan untuk melanjutkan membaca tentang kisah hidup Carl R. Rogers. Ini ada di buku yang berjudul On Becoming a Person (1961). Sepertinya buku ini merupakan bacaan wajib bagi mereka yang ingin menjadi seorang konselor atau psikolog. Buku ini memang merupakan otobiografi Rogers, tapi ditulis dengan tujuan agar orang dapat lebih memahami bagaimana konsep-konsep Client-centered Therapy dilahirkan.

Ini yang menarik buat saya: psikolog yang biasa memahami orang lain ternyata juga ingin dipahami orang lain lewat tulisannya.

... dan ternyata ini bukan hal yang mudah, karena ternyata dia membutuhkan 440 halaman untuk menyampaikan seluruh pemikirannya. Tebal sekali ya? Memang benar rupanya ungkapan bahwa manusia itu kompleks, sehingga kita sebaiknya tidak cepat merasa sudah "memahami" orang lain, apalagi kalau kita baru membaca beberapa halaman di awal saja (atau malah baru lihat covernya).

 http://d.gr-assets.com/books/1348329148l/174879.jpg

Dalam perjalanannya yang panjang untuk menjadi seorang psikolog, Carl Rogers memulainya di Rochester, New York (sebenarnya buku ini membahas juga tentang masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa awalnya, tapi bukan itu yang ingin saya bahas kali ini). Banyak pembelajaran yang dia peroleh selama menjadi psikolog muda di sana. Rupanya, pengalaman praktik memang memberikan hal-hal yang tidak akan pernah bisa diperoleh dari kuliah saja.
"It was a period of relative professional isolation, where my only  concern was in trying to be more effective with our clients. We had to live with our failures as well as our successes, so that we were forced to learn."
- Carl Rogers
Pada saat dia masih belajar, Rogers sangat kagum pada Dr. William Healy, seorang psikoanalis senior yang cukup terkenal pada saat itu. Dalam praktik, Rogers seringkali menerapkan pemikiran-pemikiran psikoanalisa Dr. Healy pada klien yang dihadapinya.

Setelah memecahkan kasus pyromania, ada pemikiran yang terlintas dalam kepala Rogers: "Healy might be wrong", tulisnya. Apa yang dituliskan dalam materi kuliah dosennya, ternyata sama sekali tidak terbukti dalam praktik pribadinya, bahkan tergolong 'ngawur'. Ada semacam 'jolt' (sentakan) dalam dirinya, semacam kekecewaan karena ternyata figur otoritas dalam bidang pendidikan bisa keliru. Ilusi bahwa "figur otoritas selalu benar dan lebih tahu daripada kita" pun runtuh dalam diri Rogers.

Apa reaksi Rogers setelah itu? Dia menulis, "Perhaps I was learning something he didn't know [...] Perhaps there was still new knowledge to discover."

Momen ini merupakan salah satu awal dari keberanian Rogers memformulasikan pemikirannya sendiri. Untuk punya pemikiran yang berbeda, dibutuhkan keberanian tersendiri. Jika seandainya Rogers tidak pernah berani mengatakan bahwa gurunya salah, mungkin Client-Centered therapy tidak akan ada, dan wajah ilmu Psikologi tidak akan sama seperti sekarang.

Beberapa puluh tahun setelah Carl Rogers, Albert Ellis yang terkenal sebagai pencipta REBT (Rational-Emotive Behavior Therapy) juga merasakan hal yang sama. Dia merasa bahwa mungkin yang diajarkan padanya itu keliru, dan dia punya pemikiran lain yang bisa menjawab pertanyaannya sendiri.

Saya rasa ini dialami oleh banyak siswa dan mahasiswa di Indonesia: sering diberikan encouragement untuk berani bertanya karena banyak yang pasif, hanya menunduk diam saja meskipun sebenarnya tidak mengerti. Ada kalimat bang Leo yang mirip dengan kalimat Rogers: "siapa tahu dengan bertanya, kalian malah menemukan hal baru yang nantinya bisa digunakan dalam praktik kalian".

Dalam berbagai situasi (tidak hanya di dalam kelas), saya seringkali merasa kesal kalau ada orang yang beralasan, "karena kata [figur otoritas] jawabannya begini, jadi beginilah yang benar". Seolah-olah kita tidak bisa mikir sendiri, dan jawaban dari figur otoritas selalu pasti benar serta tidak boleh terbantahkan. Kisah Carl Rogers dan juga Albert Ellis di atas, yang menunjukkan bahwa kemajuan itu lahir dari keberanian untuk berbeda, menjadi semacam pengingat lagi (dan juga penguat) bagi diri saya untuk lebih berani mempertanyakan sesuatu dan juga berani untuk berpikir berbeda.

Ada kutipan dari Pramoedya Ananta Toer dari novel Rumah Kaca yang pas juga untuk konteks ini:
Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.

Monday, March 11, 2013

Mengelus Anjing Yang Sedang Terbakar

No comments:

Tahun 2008, di channel HBO ada miniseries berjudul Generation Kill. Isinya menceritakan pengalaman Evan Wright sebagai wartawan Amerika saat invasi Irak tahun 2003. Karena namanya juga miniseries, maka totalnya hanya ada 7 episode. Di episode 5, muncul kalimat ini:
Never pet a burning dog.
Tentunya itu bukan untuk dimaknakan secara harafiah (orang macam apa yang berpikir untuk mengelus-elus anjing yang lagi terbakar?).

"A burning dog" (anjing yang sedang terbakar) ini maksudnya adalah apapun yang sedang menderita dan membutuhkan pertolongan. Kebanyakan orang biasanya baik hati dan mau menolong orang yang menderita. TAPI... seringkali "bantuan" itu sifatnya terlalu remeh atau tidak tepat sasaran.

"Petting a burning dog" ini maksudnya adalah memberikan bantuan yang tidak diinginkan atau justru tidak membantu sama sekali. Anjing yang sedang terbakar tentunya tidak akan berpikir untuk berterima kasih karena kita mengelus-elus dia, karena dia sedang terbakar. Bahkan, mungkin dia akan marah dan menggigit anda karena anda menghampirinya.

"Petting a burning dog" di sini artinya adalah mencoba untuk memberikan pertolongan, namun justru malah melukai semua pihak yang terlibat di dalamnya. Dalam hidup anda, mungkin anda juga pernah merasakan hal seperti ini?

Dalam miniseries Generation Kill, istilah ini merujuk pada invasi Irak. Rakyat Irak sudah menderita di tangan Saddam Hussein, dan intervensi dari Amerika malah semakin memprovokasi permusuhan yang ada.  Informasi tentang Generation Kill ini saya peroleh dari r/AskReddit.

Sunday, March 10, 2013

Buku The Other Side of Sadness

No comments:
Waktu saya SMA, ada tulisan ini di buku teks Akuntansi saya, parafrase dari Benjamin Franklin: "cuma ada dua hal yang pasti di dunia ini: kematian dan pajak". Kematian memang bagian yang tidak terhindarkan dari kehidupan ini, melengkapi the circle of life mungkin, istilahnya.

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca buku The Other Side of Sadness: What the New Science of Bereavement Tells Us About Life After Loss. Buku ini saya rasa cukup menarik, terutama karena topik yang dibahas juga baru belakangan ini saya alami sendiri. Tulisan ini bukan cuma merupakan resensi atas buku ini, namun juga merupakan tanggapan pribadi saya setelah membaca buku karya George Bonanno ini. Tulisannya juga mungkin agak ribet dan lebih menarik bagi mahasiswa psikologi, karena memang buku ini sangat ilmiah dan merupakan kumpulan riset.

Buku ini berisi kumpulan hasil penelitian dan juga interview yang dilakukan oleh penulis. Menurut Bonanno, kebanyakan buku tentang grief memiliki perspektif yang (ternyata) sempit, karena ditulis dokter atau psikoterapis. Hal itu justru menimbulkan bias, karena klien yang akan datang pada mereka adalah klien yang memang hidupnya sudah dikonsumsi oleh penderitaan, sehingga mereka membutuhkan pertolongan profesional. Usaha mengatasi grief bukanlah suatu hal yang sepele, terutama bagi orang yang merasakan derita karenanya. Namun, apa yang ditemukan para praktisi dari kliennya tidak dapat digeneralisasikan pada kebanyakan orang pada umumnya.

Berbeda dengan buku tentang grief pada umumnya, George Bonanno melihat fenomena grief dari pendekatan resiliensi. Biasanya orang psikologi mengasosiasikan proses grief dengan lima tahapan dari Kubler-Ross: denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Kebanyakan teori grief juga memandang proses ini sebagai suatu "progressive work" yang membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan. Bahkan, ada peristilahan "grief work" untuk mendeskripsikan proses ekstensif yang harus dilalui oleh semua orang yang ditinggal mati, sebelum mereka akhirnya dapat menerima kehilangan tersebut.

Tabel di atas menggambarkan bahwa pada umumnya, justru orang tidak menampilkan simptom grief yang parah karena manusia memiliki resiliensi. Jadi, dari manakah munculnya pemikiran tentang grief work ini?

Pada tahun 1917, Freud menulis artikel (Mourning and Melancholia) yang membandingkan tentang grief dan depression. Kedua hal tersebut sama-sama melibatkan kerinduan akan sesuatu yang telah hilang. Dalam pemikiran Freud, grief work adalah usaha untuk memperoleh kembali energi psikologis yang telah kita "invest" pada figur orang meninggal yang kita cintai. Istilah yang digunakan Freud sangat tidak indah, yaitu "non-existent object".

Menurut Freud, saat kita membentuk ikatan psikologis dengan orang lain, kita menggunakan semacam lem emosional primitif yang disebut "libido". Ini adalah daya motivasional yang mendorong reaksi kita terhadap segala hal yang masuk ke dalam kepedulian kita (karena ini Freud, tentu saja sex termasuk ke dalamnya). Libido ini jumlahnya terbatas, jadi kita menggunakannya secara ekonomis. Apa yang kita "invest" pada seseorang tidak dapat kita gunakan untuk yang lainnya.

Dalam mekanika Freud, kematian orang yang kita cintai menciptakan penderitaan karena pikiran kita berfungsi dengan buruk ketika kekurangan "psychic fuel", tetapi juga karena kita merindukan seseorang yang sudah tidak ada. Kondisi ini terus berlanjut hingga kita melakukan "grief work" untuk mengklaim kembali energi yang sudah kita "invest" pada orang tersebut. Freud menggunakan istilah "work" (usaha, kerja), karena istilah "lem" itu dianggap benar-benar tepat. Begitu kita terikat dengan seseorang, kita akan sulit untuk melepaskannya. Ketika orang yang kita cintai meninggal, kita menempelkan diri kita pada kenangan orang tersebut secara intens, sehingga kita dapat lari dari realita.

Namun, teori Freud mengenai grief sendiri sebenarnya masih berupa spekulasi (ini diakui sendiri oleh Freud). Dia juga tidak menjelaskan bagaimana "lem emosi" ini berfungsi, dan kenapa kita harus melepaskan diri dari "lem" tersebut setelah orang yang kita cintai meninggal. Sudah banyak kemajuan yang terjadi sejak Freud menuliskan artikelnya. Saat ini, proses berduka justru dapat ditujukan untuk memperkuat ikatan emosional dengan yang sudah meninggal.

Bagian berikut dari buku ini menjelaskan kumpulan anekdot dan juga riset terhadap orang-orang normal yang ditinggal mati oleh orang yang dicintainya. Dalam berduka, sebenarnya proses yang terjadi sangat kompleks. Kita tidak "hanya" merasakan emosi sedih, tetapi juga merasakan berbagai emosi. Hal ini muncul dari perubahan yang kita alami setelah orang yang kita cintai meninggalkan kita: situasi lingkungan berubah, hubungan kita berubah, kondisi finansial berubah, peran kita berubah, dan sebagainya. Terkadang perubahan ini bisa menimbulkan emosi positif, tapi bisa juga emosi negatif.

Karena emosi yang dirasakan juga beragam, maka yang sebenarnya dirasakan oleh orang pada umumnya adalah sebuah "oscillation", seperti sebuah pendulum. Memang kita akan merasakan sedih, tapi kita tidak selalu tenggelam dalam kesedihan. Kita juga tidak akan sepenuhnya melupakan rasa sedih itu, terkadang kita mengingatnya kembali. Seiring berlalunya waktu, oscillation ini bergerak semakin pelan, sebelum akhirnya stabil kembali.

Di bagian berikutnya, Bonanno juga membahas tentang perbedaan budaya dalam memandang kematian. Ini menarik, karena teori Psikologi di Indonesia hampir semuanya berasal dari Barat. Ada perbedaan nilai-nilai yang akan berpengaruh terhadap bagaimana cara kita memandang kematian. Masyarakat yang lebih fokus pada "here and now" tentunya beda dengan masyarakat yang menerima kematian sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari. Penulis juga memberikan contoh menarik, yaitu ritual yang dilakukan oleh orang Cina dalam berduka (membakar uang, memberikan persembahan, dan sebagainya), karena apa yang dianggap sebagai hal abnormal di Barat justru jadi hal biasa di Timur.

Secara umum, buku ini membantu saya karena memberikan gambaran bahwa proses grieving adalah hal normal yang dapat dilalui oleh tiap orang, karena sebenarnya kita memiliki resiliensi atau ketangguhan dalam menghadapi hal tersebut. Kita tidak perlu menjadi khawatir sendiri ketika kita tidak mengalami apa yang dituliskan dalam buku teori psikologi. Proses berduka bukan merupakan momen saat kita harus terjatuh, terpuruk, dan harus ditolong oleh psikolog/psikiater*, tapi justru merupakan momen dimana kita semakin memperkuat diri kita.

* = tapi kalau anda memang memerlukan bantuan psikolog, jangan ragu untuk menghubungi psikolog terdekat